menulis itu gampang. anak TK baru
masuk juga bisa. menjadi penulis, itu yang susah.
menjadi penulis artinya kamu
menerjemahkan apa yang tertangkap oleh kelima inderamu hingga orang lain dapat
membacanya dengan jelas.
menjadi penulis artinya kamu menjadi
penguasa tunggal yang menentukan segala apa yang membanjiri kepalamu untuk
kemudian keluar menjadi serangkaian kata.
menjadi penulis artinya kamu menjadi
pejuang sejati yang memulai semuanya dari awal hingga akhir.
menjadi penulis artinya kamu
mengamati sekelilingmu, menangkap realita lalu membingkainya dengan kata.
menjadi penulis artinya kamu meraba
dunia dengan kelima inderamu, juga dengan indera keenam atau ketujuh: hati.
menjadi penulis artinya kamu menjadi
pengamat sejati, pengamat yang terjun ke dalam realita, merasakan pahit
getirnya lalu merangkai sesuatu dari situ.
menjadi penulis artinya kamu
bergulat dengan segala macam perasaan; yang benar-benar terasa dan yang sengaja
dirasa-rasa.
menjadi penulis artinya kamu
melakukan itu semua dalam kesenyapan. karena hati dan pikiran hanya menajam
dalam kesunyian.
menjadi penulis artinya kamu
sendirian tidak peduli seberapa ramai hingar bingar dunia di sekelilingmu.
seorang penulis boleh berteman
dengan banyak orang, tapi teman sejatinya hanya pikirannya sendiri.
jika berani menulis, maka hal
pertama yang harus kamu punya adalah keberanian untuk tetap sendiri dan
mengunyah perlahan sepi itu sendirian.
tapi ia bukanlah pria yang akan meniup jarimu yang melepuh ketika kalian memasak bersama. ia akan menjitak kepalamu dan menertawakan kecerobohanmu.
ia bukanlah pria yang akan menggenggam tanganmu dengan mesra di depan teman2mu. ia akan mengolok2mu dengan hal2 konyol tentangmu di depan mereka.
ia bukanlah pria yang akan memberimu sekuntum bunga untuk meminta maaf. ia akan duduk dalam diam, berpikir dan menyadari kesalahannya sendiri.
ia bukanlah pria yang akan mempersembahkanmu sebuah lagu sendu nan mendayu. ia akan bernyanyi keras2 sepanjang jalan ketika mengantarmu pulang dengan motornya hingga pengendara lain memandanginya seperti memandang orang gila, agar kau tertawa.
ia bukanlah pria yang akan memberimu permata berkilauan saat kau berulang tahun. ia akan menghadiahkanmu sebuah gambar yang bisa kau pajang di dinding dan kau pandangi setiap hari dengan dahi mengernyit lalu tersenyum membayangkan usahanya.
ia bukanlah pria yang akan menjawab dengan rangkaian kata2 puitis bergelimang janji suci saat kau bertanya alasannya mencintaimu. ia akan membuktikannya dengan mengantarmu pulang malam hari di bawah hujan walau dalam keadaan sakit.
ia bukanlah pria yang akan mengajakmu kencan sepulang kuliah. ia akan menenggelamkan dirinya dalam sketsa2nya sementara ia membiarkanmu tenggelam dalam tulisanmu karena bagaimanapun ia tahu kau sedang hidup di duniamu sendiri.
ia bukanlah pria yang akan menghujanimu dengan surat cinta. ia akan mengurung diri berjam2 dalam kamarnya untuk membuatkanmu sebuah lukisan abstrak.
ia bukanlah pria yang akan membawamu ke restoran untuk makan malam di bawah cahaya lilin. ia akan mengajakmu makan malam di warung tenda di pinggir jalan dan berbaur dengan para seniman jalanan.
ia bukanlah pria yang akan memuji dandanan dan sikap anggunmu. ia akan menikmati setiap detik memandangi dandananmu yang asal dan memuja tingkahmu yang tidak seperti perempuan lainnya.
ia bukanlah pria yang akan mengajakmu ke tempat romantis yang kau mau. ia akan mengajakmu berkeliling kota, ditelan kebisingan, bersentuhan dengan asap kendaraan, mengobrol tentang tempat2 yang ia kenal sejak kecil dan cerita2 masa lalunya di sana atau mengunjungi tempat2 sunyi dan damai di mana kau hanya akan mendengar desau angin.
walau si gadis tidak selalu merasa diperlakukan seperti seorang puteri,
walau si pria tidak selalu bertingkah seperti seorang pangeran,
walau orang lain memandang mereka sebagai pasangan yang berbeda dari orang kebanyakan,
sesungguhnya gadis yang berhasil memenangkan hatinya adalah gadis yg beruntung.
karena ia adalah pria yang manis dengan ketidakmanisannya,
yang romantis dengan caranya yang paling ajaib,
yang peduli dengan keacuhannya,
yang hangat dengan semua dinginnya,
yang mencintai tanpa arogansi,
yang menyayangi tanpa tendensi,
yang istimewa dengan kesederhanaannya.
pria itu adalah kekasihku.
memiliki dan dimilikinya adalah sebuah kemewahan.
*hey kamu. iya kamu. ini memang tentang kamu. i really am proud of you :)
I think I'm going to learn something new. Like flash fiction. So hook me up.
I always have that constant fear. Permanent fear, I think. I’m scared of making mistake. Though I clearly know that living with such fear, will only make you end up in doing nothing.
With the current boyfriend I have, I’ve been staying for this long. We’ve been through almost everything more than one year—14 months and 14 days, to be precise. We’ve been through the worst and the best, along with me, making mistakes in the relationship. It seems that making mistakes here and there is something that I keep doing no matter how bad it all was. It seems that I’m powerless and brainless, for not learning from mistakes after mistakes.
And see what I do now; I stay with him after he forgave me like, thousand times. I should’ve let him go or leave him—since I can’t see him suffers from forgiving my mistakes. But I stay, instead. I risk every single piece of myself by staying and could possibly been hurt by seeing him suffered from keep forgiving my constant mistakes.
I stay because I love him. But I can’t do this anymore as long as I can’t control what I’m gonna say, act, or instantly think. I get jealous many times, I get on my nerves, I get upset, I get angry, I lose my patience most of the time. I’m only human. No, I’m not only human. I’m a bad—or even worse—kind of a human.
It seems that I am the bad guy here. I’m screwed. I’m a total mess. I’m terrifying.
Saya baru pindah rumah tanggal 16 februari kemarin. Ngga jauh, sih dari rumah saya yang lama tapi tetep aja rasanya beda banget karena tetangganya beda dan sekarang posisi rumahnya di kompleks perumahan, ngga di pinggir jalan lagi kayak kemarin.
Malemnya saya ngga bisa tidur. Saya gelisah setengah mati. Kejadian-kejadian penting pun kembali diperlihatkan. Yang pahit, yang manis, yang nyebelin, yang ngangenin...
Ditembak via telfon (culun amat ya saya dulu??), diputusin di chatroom sama cowok yang sama, berantem di telfon sama pacar yang sekarang, berkasih di sana, semuanya jadi lucu kalo diinget-inget lagi.
Pagi itu saya bangun karena berisik orang-orang yang mulai ngangkutin koper dan kardus-kardus yang malem sebelumnya udah disusun di ruang tamu. Satu-satu barang mulai dikeluarin. Ruang-ruang mulai kosong. Tinggal debu dan cat yang mengelupas. Semuanya jadi terlihat sama seperti saat saya baru pindah 8 tahun lalu.
Rumah saya baru selesai dikosongin sekitar jam 12 siang dan rumah baru selesai didekor waktu hampir maghrib. Selesai beres-beres badan saya berasa remuk. Hari itu saya dekil dan menyedihkan.
Anyway, the new house is smaller. Actually, I don’t know whether the house that is small or our stuff that’s too much. Dari pertama kami niat pindahan, saya udah pengen banget ngebuang-buangin aja barang-barang lama yang udah ngga pernah dipake. Tapi Mama saya keukeuh nyimpen barang-barang itu dengan alasan masih bakal dipake kapan-kapan. Saya cuma geleng-geleng kepala. Sebelah mananya diktat kuliah perhotelan Papa saya masih bakal dipake?
Though our new house is smaller but this feels better : )