Showing posts with label review. Show all posts

Book of The Month - January: Brida - Paulo Coelho

I’ve (finally) finished reading Brida by Paulo Coelho 3 days ago. Setelah sekian bulan punya buku itu akhirnyaaaa tamat jugaaaa *dances*


The first thing I would like to say is, Paulo Coelho is so godamn genius. I found several quotes I love so much.

"Tapi bagaimana caraku mengetahui siapa Pasangan Jiwa-ku?" tanya Brida. "Dengan mengambil risiko kegagalan, kekecewaan, kehilangan arah, tapi tak pernah berhenti dalam pencarianmu menuju Cinta." 
Ibu Brida merasa lega dan sedih bersamaan, Masalah-masalah hati akan selalu melukai jiwa, dan ia berterima kasih kepada Tuhan karena anak perempuannya tidak memiliki masalah seperti itu. Di sisi lain, ia mungkin bisa memberikan nasihat di area itu, cinta tidak banyak berubah setelah berabad-abad.
 "Ini yang akan diajarkan hutan kepadaku. bahwa kau tidak akan pernah menjadi milikku dan karena itulah aku tidak akan pernah kehilanganmu. Kau adalah harapanku pada momen kesepianku, kecemasanku pada momen keragu-raguan, kepastianku pada momen keyakinan."
"Aku akan selalu mengingatmu, dan kau akan mengingatku, seperti kita akan mengingat malam itu, hujan pada jendela, dan semua hal yang akan kita miliki karena kita tidak memiliki semua itu."

Buku-buku Paulo Coelho punya ide yang agak berat sebenernya, tentang pencarian spriritual. Brida ini pun begitu. Ceritanya tentang wanita muda bernama Brida yang mencari jati dirinya dengan berguru sama penyihir.
Kalo yang suka tipe-tipe cerita gini, sih ringan-ringan aja bacanya. Tapi saya tipe pembaca yang membaca buat hiburan, jadi begitu baca Brida ini bawaannya capek karena mikiiiir mulu karena idenya 'dalem' banget dan beberapa bagian sulit diserap jadi saya harus baca berulang-ulang. Mungkin karena terjemahan kali, ya. Kan, ada tuh kalimat-kalimat dalam bahasa Inggris yang kalo diterjemahin ke bahasa Indonesia malah jadinya agak kurang enak dibaca. Buat yang memang menikmati kata-kata yang indah, lebih dianjurkan untuk baca versi Inggrisnya :D

Overall, Brida is well-written. The characters are portrayed clearly, the story is well-woven, biarpun plotnya agak lambat dan bisa bikin bosen buat yang nggak sabaran. 
Anyway, kalo Brida ini jadi film, saya ngebayangin yang jadi Sang Magus-nya adalah Nicholas Cage di Sorcerer's Apprentice XD

I give Brida: ««««/««««« 

Benang Kusut Rasa Ala Ika Natassa


Judul buku      : Antologi Rasa
Penulis            : Ika Natassa
Penerbit           : PT Gramedia Pustaka Utama
Harga              : Rp 48.000,-
Tebal               : 339 halaman

Antologi Rasa bercerita tentang 3 orang sahabat yang saling memendam perasaannya antara satu sama lain kemudian bagaimana mereka menemukan bahwa kenyataan dan pengharapan seringnya berbanding terbalik and basically how they fall in and out of love.

Sebetulnya standar saja, cerita khas masyarakat urban dengan karir yang hebat, gaya hidup glamor, dan kehidupan cinta yang dinamis dengan bumbu romance yang twisty. Tapi bagaimana cara Ika bertuturlah yang menjadikan buku ini berbeda dengan buku bergenre metropop lainnya yang sejenis. Ika bertutur dengan begitu luwes. Membaca buku ini sejak halaman pertama terasa seperti mendengar penuturan seorang teman dekat yang tidak menyimpan rahasia apapun dari kita. Begitu mengalir dan engaging.

Hal berbeda lainnya adalah bagaimana character development setiap tokoh tampak seperti dipahat dengan begitu sempurna. They’re perfectly imperfect. Sangat manusia. Ditambah lagi sudut pandang orang pertama dari ketiga tokoh utamanya dihadirkan dengan sangat pas dan tidak terkesan ‘cerewet’ walaupun pergantiannya pada beberapa titik begitu cepat.

Antologi Rasa kadang terasa seperti ensiklopedia singkat dengan penuturan Ika tentang sejarah kontemporer, fotografi, dan dunia perbankan yang memang  digelutinya, dan terkadang bisa juga terasa seperti buku harian orang lain atau telefon seorang teman lama yang punya banyak sekali komentar jahil dan macam-macam hal untuk dikatakan. Beyond unique.

Yang menjadi perhatian kemudian ketika dibandingkan dengan karya Ika lainnya yaitu A Very Yuppy Wedding dan Divortiare adalah bahwa latar belakang tokoh utamanya hanya berkisar di situ-situ saja, di daerah yang Ika ketahui benar sehingga jika seseorang membaca beberapa karya Ika lainnya, latar belakang ini jadi tampak monoton. Memang sebaiknya seorang penulis menulis hal-hal yang betul-betul mereka pahami agar konsistensi selama cerita berlangsung tetap terjaga, namun alangkah baiknya jika Ika lebih sering ‘bermain’ di daerah lain  pula sehingga memperkaya tidak hanya tulisannya tetapi juga memperkaya pengetahuan dan perasaan pembaca.

Secara keseluruhan buku ini layak dibaca apalagi oleh pecinta genre metropop. Hangat, dekat, dan sangat menghibur.