Before I post this so-called 2014 resolutions, I'd like to evaluate what I wrote as 2013 resolution first. Agak malu-maluin sih, sebetulnya :" 1. Nyelesein 1 novel.
Failed.
I do have a first draft of a metropop novel tapi sayang berenti pas masuk bab 2 karena waktu dirasa-rasa lagi ceritanya ngga ada bagus-bagusnya. I just simply am not into it anymore.
2. Nerbitin antologi cerpen.
Half-failed, half-done (can I say it?)
Again, the first draft is almost done! But the book still needs 2 or 3 more short stories. Think I'll put this as my new year resolution.
3. Nge-mall sendirian.
Done!
Pada awalnya nge-mall sendirian ini bertujuan untuk nyari tempat baru buat nulis, coffee shop misalnya. But I was in a major argument with E that day. So I decided to go all alone, walking myself down to a mall and it wind up hanging out in a bookstore, bought RectoVerso, then went home straight away. I still feel sad whenever I read the book, especially when I read Peluk *weeps*
4. Baca 30-45 buku buat 2013 Indonesian Romance Reading Challenge
Failed.
Saya baca beberapa buku bagus tahun lalu, Autumn Once More, Jika Dan Hanya Jika, Kukila, Perempuan Yang Melukis Wajah dan buku-buku terjemahan lain kayak Norwegian Woods atau chicklit Bookends. But what I read mostly didn't match the qualifications for the challenge.
5. Nikmatin hujan di Bogor sama pacar.
Failed.
We should be taking a weekend vacation on November last year but November was the hardest month of the year. E got totally emotional from the middle of November to the early December due to his granny illness. Sadly, we couldn't go anywhere.
Sebagai gantinya, kami sering menghabiskan waktu kencan dengan jalan-jalan keliling kota sambil nikmatin hujan dari jendela mobil. It involved holdings hands and listening to the sweet Payung Teduh. Best moment of the year, I think. Will post a more detail story later *lovestruck*
6. Stop kebiasaan buruk, semacam meper upil di mana-mana, nyimpen baju yang rapi, dll.
Failed.
Bangun siang saya semakin menjadi-jadi tahun lalu karena jadwal kuliah yang udah sangat-sangat berkurang. Crap :c
7. Blogging tiap hari.
Failed.
Awalnya sih udah terjadwal dengan baik. Sayang banget blog ini ter-distract sama Tumblr dan Twitter. Well, how can I manage to refuse a simpler way to blog?
8. Olahraga seminggu 2 kali.
Failed. Enough said.
9. Set a writing routine and stick to it.
Failed.
Sad. So sad. I still didn't do enough writing gara-gara Twitter. Damn you, socmed.
10. Naikin berat badan jadi 42 kg.
Failed.
Keseringan bad mood dan berujung pada males makan. Untunglah sekarang E get better and better dan jadi 'satpam makan' saya. I love you for being this nagging boyfriend, E! LOL
11. Lebih bersih dan mulus.
(still trying to)
I did lots of face treatment last year. Thanks to Oriflame, I got my first lipstick and eyeliner! Yeay! C:
And here's my new year resolution:
1. BULAN MEI WISUDAAAAAAAAA
2. Nerbitin antologi cerpen.
3. Naikin berat badan jadi 40 kg.
4. Set a writing routine and stick to it!
5. Olahraga 2 kali seminggu!
6. Stop kebiasaan buruk!
7. Baca buku baru minimal sebulan sekali.
8. Dapet kerja *winks*
9. Apply Master.
10. Buka rekening berdua sama E and save min. $10/month
Even in the very last minute of 2013, that year still left
some dissapointment. Like it wasn’t enough for it to deliver some bad news.
I failed the competition. Again. I didn’t failed because I didn’t win.
More than that, I failed in the middle of attempting.
Dan kesempatan itu lewat begitu saja di depan mata. It was
even harder to see. Tahu rasanya gagal sebelum sempat memasukkan sepenggal saja
kesempatan dalam undian?
I will remember the anger, the dissapointment. And by the
moment I remember it, that will pull the trigger to do way better and faster.
I don’t think I can catch some sleep until I figure out what
part do I miss. The fact is, I don’t know what’s been missing.
Anyway, Happy New Year. May life opens your eyes and brings you lots of great opportunities.
"Hujan baru berderai. Sudikah Tuan menemani, bergandeng tangan sembari menyusuri setapak selagi langit sedang sendu-sendunya?"
Jarak ini, Sayang, membentang terlalu jauh.
Menciptakan ruang-ruang kosong di rumah hati yang kita tinggali bersama.
Aku kedinginn jadinya, tidakkah kau lihat?
Ada rindu menyeruak setiap detik, mengais-ngais keberadaanmu seperti seorang pesakitan.
Jangan bergerak. Tinggallah lebih lama, biar hanya sapa yang mampir.
Dan menghangatlah. Sesungguhnya aku pulang setiap kau ingat aku dengan hangatmu itu.
Belum pernah sebelumnya saya sekesal ini sama si E.
Dulu-dulu saya sering juga kesal karena hal-hal kecil semacam dia ngga bisa bangun pagi, susah diajakin kencan, males-malesan diajakin kuliah, dan sejenisnya. Standar perilaku laki pada umumnya lah.
Tapi sekarang, ketika semuanya mulai membaik--jauh lebih baik dari sebelumnya, another thing start intervening us.
Dia seperti hanya dimiliki keluarganya. Karena memang benar, dia selamanya adalah milik keluarganya dan tidak akan pernah bisa saya memilikinya secara utuh biarpun saya suatu hari nanti sudah jadi istrinya.
Sudah dua kali--termasuk kemarin--ia tiba-tiba diminta pulang untuk mengantar orang rumahnya. Ketika itu ia sedang bersama saya dan berencana mengantarkan saya ke suatu tempat. Saya kesal. Dan itu pasti kentara sekali di permukaan. Tapi siapa saya ingin protes atau menggugatnya? Saya selamanya hanya orang luar, tidak peduli status apapun yang ia sematkan pada saya.
Keluarganya lebih berhak atas waktu dan hadirnya. Saya tidak.
So what am I gonna do t get rid of this feeling? Stop meeting him for a while? How can I do that? How can he do that? :(