Tentang Ally All These Lives yang Dreamy



Saya sangat percaya bahwa first impression tell you everything you need to know. Pada apapun. Juga termasuk urusan buku. Beberapa kalimat atau paragraf pertama sangatlah menentukan apakah pembaca akan membuka halaman selanjutnya atau menutup dan melupakannya dengan senang hati.

Buku ini pun begitu. Beberapa kalimat pertamanya membuat saya mengernyit dan berkata dalam hati, 'ini akan membosankan.' Tapi ternyata mengejutkan bagaimana di bagian tengah kalimat dan paragraf, semakin lama saya membacanya, semakin saya ingin membaca kalimat selanjutnya. Tanpa jeda. Arleen A pintar membuat buku ini jadi a page turner.

Selain itu, dari pembukaannya saya tahu Arleen A mempunyai sensory detail yang sangat baik, sesuatu yanh harus dimiliki penulis agar setting-nya tidak jadi sekadar 'tempelan', agar perasaan sampai pada pembaca, bukan sekadar showing lalu ngambang.

Hal lainnya yang saya suka adalah engaging opening. Cukup membuat saya terus dan terus membaca setiap kalimat sambil menebak-nebak, 'what is this all about? Is it going to be a fantasy? Romance? Thriller? Or is it some medical drama?' Sampai akhir bab 2 tebakan itu belum terjawab.

Dan yang terakhir, yang terpenting ketika saya membaca buku adalah atmosfir. Mau seterampil apapun penulis merajut plot, menciptakan karakter, menempel setting, tanpa atmosfir yang dibangun dengan tepat, tulisan bisa jadi datar begitu saja. Arleen A berhasil memberi atmosfir pada bukunya ini. Tiap pembaca mungkin berbeda penafsirannya, tapi saya merasakan atmosfir gelap, agak sendu, dan dreamy. Mood-nya dibangun dengan tepat dan konsisten. Secara keseluruhan, bagi saya buku ini adalah buku yang berhasil karena di ujung bab 2 bisa bikin saya bilang, 'yah, abis' dan menginginkan lebih.

Book of The Month - January: Brida - Paulo Coelho

I’ve (finally) finished reading Brida by Paulo Coelho 3 days ago. Setelah sekian bulan punya buku itu akhirnyaaaa tamat jugaaaa *dances*


The first thing I would like to say is, Paulo Coelho is so godamn genius. I found several quotes I love so much.

"Tapi bagaimana caraku mengetahui siapa Pasangan Jiwa-ku?" tanya Brida. "Dengan mengambil risiko kegagalan, kekecewaan, kehilangan arah, tapi tak pernah berhenti dalam pencarianmu menuju Cinta." 
Ibu Brida merasa lega dan sedih bersamaan, Masalah-masalah hati akan selalu melukai jiwa, dan ia berterima kasih kepada Tuhan karena anak perempuannya tidak memiliki masalah seperti itu. Di sisi lain, ia mungkin bisa memberikan nasihat di area itu, cinta tidak banyak berubah setelah berabad-abad.
 "Ini yang akan diajarkan hutan kepadaku. bahwa kau tidak akan pernah menjadi milikku dan karena itulah aku tidak akan pernah kehilanganmu. Kau adalah harapanku pada momen kesepianku, kecemasanku pada momen keragu-raguan, kepastianku pada momen keyakinan."
"Aku akan selalu mengingatmu, dan kau akan mengingatku, seperti kita akan mengingat malam itu, hujan pada jendela, dan semua hal yang akan kita miliki karena kita tidak memiliki semua itu."

Buku-buku Paulo Coelho punya ide yang agak berat sebenernya, tentang pencarian spriritual. Brida ini pun begitu. Ceritanya tentang wanita muda bernama Brida yang mencari jati dirinya dengan berguru sama penyihir.
Kalo yang suka tipe-tipe cerita gini, sih ringan-ringan aja bacanya. Tapi saya tipe pembaca yang membaca buat hiburan, jadi begitu baca Brida ini bawaannya capek karena mikiiiir mulu karena idenya 'dalem' banget dan beberapa bagian sulit diserap jadi saya harus baca berulang-ulang. Mungkin karena terjemahan kali, ya. Kan, ada tuh kalimat-kalimat dalam bahasa Inggris yang kalo diterjemahin ke bahasa Indonesia malah jadinya agak kurang enak dibaca. Buat yang memang menikmati kata-kata yang indah, lebih dianjurkan untuk baca versi Inggrisnya :D

Overall, Brida is well-written. The characters are portrayed clearly, the story is well-woven, biarpun plotnya agak lambat dan bisa bikin bosen buat yang nggak sabaran. 
Anyway, kalo Brida ini jadi film, saya ngebayangin yang jadi Sang Magus-nya adalah Nicholas Cage di Sorcerer's Apprentice XD

I give Brida: ««««/««««« 

"Aku mencintaimu sejak sebelum kita bertemu.
Dulu aku menemuimu di mimpi-mimpi.
Di mimpi yang manis dan hangat, 
seperti cerita di malam musim panas."

Birthday Wishlist! ihihihihi ^^

1. Lang Leav's Love & Misadventure



2. Be proposed (with him on his knee and a ring or just with a ring or... or anything-I-don't-care).


http://api.viglink.com/api/click?format=go&key=df797c6edb7c14f9b66bc241a31bf453&loc=http%3A%2F%2Fweheartit.com%2Fentry%2F90680873%2Fsearch%3Fcontext_type%3Dsearch%26context_user%3Dt_oki%26page%3D2%26query%3Dwedding%2Bproposal&v=1&libId=b671c1f2-b917-460d-9030-c01ad2a8651d&out=http%3A%2F%2Fsaid-to-be-wed.tumblr.com%2Fpost%2F68448379313&ref=http%3A%2F%2Fweheartit.com%2Fsearch%2Fentries%3Futf8%3D%25E2%259C%2593%26ac%3D0%26query%3Dproposed%2520ring%26commit%3D&title=Said%20To%20Be%20Wed%20%7C%20via%20Tumblr%20%7C%20We%20Heart%20It&txt=%0A%20%20%20%20%20%20%20%20%20%20%20%20%20%20%20%20%0A&jsonp=vglnk_jsonp_13889250994157
via t-oki

3. Nonton JJF 2014!



4. A new leather notebook


from BoundByHand

5. iPod Touch 5th Gen (the pink one please :3 )



6. Sistar's albums :D



 


7. The Sims 4


8. A Mixed LitBox package




9. John Green's The Fault In Our Stars



10. The Art Of Hearing Hearbeats - Sendker


11. A pair of running shoes


12. The Cuckoo's Calling - Robert Galbraith


13. A feast of food with close friends and E :))))

source: weheartit

14. Going to the beach!


15. You. Yes, I want you, wrap in a box with a cute pink ribbon, in front of my door, saying that you like me and want me to be your girlfriend, repeating what you said to me over the text 3 years ago. Yep, text. I'm that kind of woman -_- 

I filled my 22nd birthday wishlist with lots of books. Never mind. I'll buy those one by one this year! ^^9
And, re-reading this silly birthday wish, I realized that I have lots of wishes for love, too. Anyway, what does a woman who falls in love everyday supposed to do?


"If I'd had more time, I would have written you a much shorter letter."
                                                                                                             
                                                                                                             EB White 


image taken from here

Somewhat 2014 Resolutions

Before I post this so-called 2014 resolutions, I'd like to evaluate what I wrote as 2013 resolution first. Agak malu-maluin sih, sebetulnya :"

1. Nyelesein 1 novel.
Failed.
I do have a first draft of a metropop novel tapi sayang berenti pas masuk bab 2 karena waktu dirasa-rasa lagi ceritanya ngga ada bagus-bagusnya. I just simply am not into it anymore.

2. Nerbitin antologi cerpen.
Half-failed, half-done (can I say it?)
Again, the first draft is almost done! But the book still needs 2 or 3 more short stories. Think I'll put this as my new year resolution.

3. Nge-mall sendirian.
Done!
Pada awalnya nge-mall sendirian ini bertujuan untuk nyari tempat baru buat nulis, coffee shop misalnya. But I was in a major argument with E that day. So I decided to go all alone, walking myself down to a mall and it wind up hanging out in a bookstore, bought RectoVerso, then went home straight away. I still feel sad whenever I read the book, especially when I read Peluk *weeps* 

4. Baca 30-45 buku buat 2013 Indonesian Romance Reading Challenge
Failed.
Saya baca beberapa buku bagus tahun lalu, Autumn Once More, Jika Dan Hanya Jika, Kukila, Perempuan Yang Melukis Wajah dan buku-buku terjemahan lain kayak Norwegian Woods atau chicklit Bookends. But what I read mostly didn't match the qualifications for the challenge.

5. Nikmatin hujan di Bogor sama pacar.
Failed.
We should be taking a weekend vacation on November last year but November was the hardest month of the year. E got totally emotional from the middle of November to the early December due to his granny illness. Sadly, we couldn't go anywhere.
Sebagai gantinya, kami sering menghabiskan waktu kencan dengan jalan-jalan keliling kota sambil nikmatin hujan dari jendela mobil. It involved holdings hands and listening to the sweet Payung Teduh. Best moment of the year, I think. Will post a more detail story later *lovestruck*

6. Stop kebiasaan buruk, semacam meper upil di mana-mana, nyimpen baju yang rapi, dll.
Failed.
Bangun siang saya semakin menjadi-jadi tahun lalu karena jadwal kuliah yang udah sangat-sangat berkurang. Crap :c

7. Blogging tiap hari.
Failed.
Awalnya sih udah terjadwal dengan baik. Sayang banget blog ini ter-distract sama Tumblr dan Twitter. Well, how can I manage to refuse a simpler way to blog?

8. Olahraga seminggu 2 kali.
Failed. Enough said.

9. Set a writing routine and stick to it.
Failed. 
Sad. So sad. I still didn't do enough writing gara-gara Twitter. Damn you, socmed.

10. Naikin berat badan jadi 42 kg.
Failed.
Keseringan bad mood dan berujung pada males makan. Untunglah sekarang E get better and better dan jadi 'satpam makan' saya. I love you for being this nagging boyfriend, E! LOL

11. Lebih bersih dan mulus.
(still trying to)
I did lots of face treatment last year. Thanks to Oriflame, I got my first lipstick and eyeliner! Yeay! C:

And here's my new year resolution:
1. BULAN MEI WISUDAAAAAAAAA
2. Nerbitin antologi cerpen.
3. Naikin berat badan jadi 40 kg.
4. Set a writing routine and stick to it! 
5. Olahraga 2 kali seminggu!
6. Stop kebiasaan buruk!
7. Baca buku baru minimal sebulan sekali.
8. Dapet kerja *winks*
9. Apply Master.
10. Buka rekening berdua sama E and save min. $10/month

Fighting! ^^9

In the very last minute of 2013

Even in the very last minute of 2013, that year still left some dissapointment. Like it wasn’t enough for it to deliver some bad news.

I failed the competition.  Again. I didn’t failed because I didn’t win. More than that, I failed in the middle of attempting.

Dan kesempatan itu lewat begitu saja di depan mata. It was even harder to see. Tahu rasanya gagal sebelum sempat memasukkan sepenggal saja kesempatan dalam undian?

I will remember the anger, the dissapointment. And by the moment I remember it, that will pull the trigger to do way better and faster.

I don’t think I can catch some sleep until I figure out what part do I miss. The fact is, I don’t know what’s been missing.

Anyway, Happy New Year. May life opens your eyes and brings you lots of great opportunities.

"Hujan baru berderai. Sudikah Tuan menemani, bergandeng tangan sembari menyusuri setapak selagi langit sedang sendu-sendunya?"

image taken from here.
Jarak ini, Sayang, membentang terlalu jauh.
Menciptakan ruang-ruang kosong di rumah hati yang kita tinggali bersama.
Aku kedinginn jadinya, tidakkah kau lihat?
Ada rindu menyeruak setiap detik, mengais-ngais keberadaanmu seperti seorang pesakitan.
Jangan bergerak. Tinggallah lebih lama, biar hanya sapa yang mampir.
Dan menghangatlah. Sesungguhnya aku pulang setiap kau ingat aku dengan hangatmu itu.

a little thought over a couple days of disappointment.


Belum pernah sebelumnya saya sekesal ini sama si E. 
Dulu-dulu saya sering juga kesal karena hal-hal kecil semacam dia ngga bisa bangun pagi, susah diajakin kencan, males-malesan diajakin kuliah, dan sejenisnya. Standar perilaku laki pada umumnya lah.
Tapi sekarang, ketika semuanya mulai membaik--jauh lebih baik dari sebelumnya, another thing start intervening us.
Dia seperti hanya dimiliki keluarganya. Karena memang benar, dia selamanya adalah milik keluarganya dan tidak akan pernah bisa saya memilikinya secara utuh biarpun saya suatu hari nanti sudah jadi istrinya.
Sudah dua kali--termasuk kemarin--ia tiba-tiba diminta pulang untuk mengantar orang rumahnya. Ketika itu ia sedang bersama saya dan berencana mengantarkan saya ke suatu tempat. Saya kesal. Dan itu pasti kentara sekali di permukaan. Tapi siapa saya ingin protes atau menggugatnya? Saya selamanya hanya orang luar, tidak peduli status apapun yang ia sematkan pada saya. 
Keluarganya lebih berhak atas waktu dan hadirnya. Saya tidak.
So what am I gonna do t get rid of this feeling? Stop meeting him for a while? How can I do that? How can he do that? :( 

Living Alone, Freedom, and Everything in Between


I always wonder, or used to wonder to be exact, what living alone feels like. No parents, no boyfriend, no close friends, no roomate, my own home,  a good job, a good thought, beautiful city, good surroundings, good gadgets... and everything you’ve ever wanted.
But in the real world, nothing is that perfect.  Everything seems evil, cruel, bad...
Living alone isn’t that simple. It’s rather tiring.
Your boss is a pain in the ass, friends are nowhere to be found, lover is out of the town, paperworks keep pilling up, your home is a mess, and you’re too tired to fix things up. You are away from the people you love.
You can call them, tell them how bad your day was, how you hate your life and want to get back to your initial life no matter how lame it was, but still, they’re not there. No hugs, no sweet kisses, no pat in the back, no hands to hold, no shoulder no cry on, there’s not enough face to see.  How could this be? How could this loneliness and freedom euphoria be so much phony?
If you think that living alone is such a great idea, you’re right. But unlike love which is (bitter) sweet from near and afar, it’s a fatamorgana. It’s fantasy.

Friends or Lovers


Friends or lovers? Tough decision.
Kamu ngga tau mana yang lebih kamu cintai lebih dari yang satunya dan mana yang lebih mencintai kamu. Kamu butuh keduanya tapi ngga bisa ninggalin salah satu. Karena merekalah yang bikin kamu tetep berdiri di saat yang satunya bikin kamu jatuh. We keep turning back and forth to them.
Pilih temen, pacar ngga suka. Pilih pacar, temen kecewa.
You love them both. You can’t stand straight without them. You don’t want to lose any of them.
Karena mereka terlalu berharga. Keduanya melengkapi kita.
Dan saat pilihan ini disodorkan ke depan hidungmu, mana yang bakal kamu pilih?
Or, should we choose, like John Mayer says, nothing? Karena memilih untuk tidak memilih pun merupakan sebuah pilihan.

Birthday Wishlist yang Ngga Ngukur Diri

1.       Ricoh GXR Digital Camera

2.       Dee’s Rectoverso

3.       Perahu Kertas original DVD





4.       A pair of Oxford shoes

5.       iPad 4

6.       Murakami’s books

7.       A medium Forever Friends bear

8.       Shiny princess cut ring

9.       Asus Eee PC 1025C

10.   Alain de Botton’s On Love






11.   iPod Touch

12.   Having a great feast of food with E and close friends



13.   Genuine leather satchel bag from ASOS

14.   Gossip Girl DVD all season

15.   Be proposed (Okay, this is insane. But this is what comes in mind when I think about something else.) 

Resolusi 2013


Saya kira catetan resolusi 2012 saya hilang. Tadinya ngga jadi bikin evaluasinya, eh ngga taunya catetannya keselip di folder. So here’s the evaluation:
1.    Kurangi ngomel2 di sosmed.
Ini ngga bisa dibilang gagal tapi ngga bisa juga dibilang berhasil. Karena sekarang dengan smartphone ini twitter jadi gampang banget dijangkau. Tapi ngomel-ngomelnya pun ‘berkelas’, ngga asal bacot. Since I called it ‘kurangin’, so... check!

2.    Kurangi tweet2 ngga penting. Stop update status di Facebook. Twitter dan Facebook cuma buat promosi blog, spread ONLY the positive words, and keep in touch with family and friends.
Facebook hampir ngga pernah dipake kecuali untuk message-message-an sama temen yang nge-message duluan, main games, dan login 4shared. Tweet taun ini rata-rata isinya quote-quote makjleb, apalagi menjelang akhir taun. Jadi check!

3.    Punya deadline nulis.
I got it in the beginning of the year dan tertatih-tatih memenuhi deadline yang berimpitan sama deadline tugas kampus. I made it. But in the middle of the 2012 I lost it. Got distracted by writing competitions here and there. So, not check.

4.    Stop kebiasaan buruk.
Semacam meper upil di mana aja dan bangun pagi ini gagal.

5.    Olahraga seminggu sekali.
Ini gagal total juga.

6.    Have a Blackberry.
Check!

7.    Nabung 50.000 per bulan, 2000 per hari.
Now, when I reread this, I don’t understand how I can even write this.

8.    Selalu baca satu buku setiap bulan.
Check!

9.    Posting blog 5-6 kali sebulan.
I lost my counting. So no.

10.  Dapet keputusan negara buat going abroad.
Check. I’ll go to US. Tapi setelah dipikir-pikir lagi sepertinya saya menetap di Indonesia dulu sampe lulus S2.

11.  Latihan toefl satu latihan per hari.
Ini gagal.

12.  Nyelesein final draft satu buku.
Ini juga gagal. See, I’m not born to do essay with a certain theme for the competitons. It only puts me in a jail.
And here’s my 2013 resolutions:
1.    Nyelesein 1 novel.
2.    Nerbitin antologi cerpen.
3.    Nge-mall sendirian.
4.    Baca 30-45 buku buat 2013 Indonesian Romance Reading Challenge.
You can read more here.
5.    Nikmatin hujan di Bogor sama pacar.
6.    Stop kebiasaan buruk, semacam meper upil di mana-mana, nyimpen baju yang rapi, dll.
7.    Blogging tiap hari.
8.    Olahraga seminggu 2 kali.
9.    Set a writing routine and stick to it.
10.  Naikin berat badan jadi 42 kg.
11.  Lebih bersih dan mulus.
Wish me luck! J

Catatan Kecil Dari 10 Desember


Siapa dia?
Dia temen sekelas saya waktu kuliah. Dia menonjol dari pada yang lain karena dia mengajukan diri sebagai ketua kelas. Yaa, seenggaknya sampe kita tingkat 2. Tingginya sekitar 170an dan bertubuh padat—kalau tidak bisa dibilang gemuk. Kulitnya coklat gelap, rambut ikalnya hitam legam dengan potongan gondrong gaje sebahu.  Saya suka hidungnya. Eh, ngga juga sih, saya sebenernya iri sama hidungnya yang lurus dan tinggi itu karena hidung saya sendiri pas-pasan. Dia ngga ganteng, jujur aja. Tapi ngga jelek-jelek amat juga. Lumayanlah enak dipandang :D
Dia seorang seniman. Dia melukis dan menggambar di media apapun yang bisa dia temukan; buku sketsanya, kanvas, modul praktikum saya, selembar tisu, buku catatan kuliah saya, bangku kelas, seluruh dinding kamarnya, kaca spion dan lampu motornya, sampai dinding besar di pinggir jalan raya, tentu aja. Dan karya-karyanya bagus. He’s really a pro.
Dia adalah seorang wirausahawan multitalenta yang biasa nerima order sablonan.
Dia cerdas, wawasannya luas, sudut pandangnya lebar. Jenis cowok lempeng yang ngga akan ngomong atau ketawa kalo ngga penting-penting amat. Dia sangat-sangat moody—sesuatu yang sampe sekarang sering bikin saya gemes pengen jitak pake Kapak Naga Geni. Dia kadang persis abg labil kalo lagi gampang marah dan emosi tapi kadang kayak eyang kakung saya kalo lagi nasehatin saya atau ngobrolin masalah temen-temen kita. Dia suka baca otobiografi dan dengerin musik cadas atau musik blues—atau soundtrack Twilight Saga akhir-akhir ini setelah saya pengaruhi. Dia tipe pekerja keras dan rasa tanggung jawabnya tinggi. He’s a bad guy gone good. Dia pria dengan kombinasi teraneh yang saya kenal. He’s wonderful.
Gimana ya mendeskripsikan saya, dia, dan hubungan kami?

Saya rasa dia udah kelewat sabar ngadepin saya selama ini karena saya mungkin adalah pacar yg paling beda dari pacar-pacar sebelumnya karena paling bawel, paling ngga nyantai, paling rumit, paling manja, paling lebay, paling sering bikin pusing, dan paling-paling lainnya. Semuanya saya pikir adalah karena jarak kami yang deket dan intensitas ketemuan yang tinggi banget ini. Clash jadi gampang banget terjadi.

Apa sebenernya yang lagi kita jalanin?

Di bulan ke-13, berantemnya mulai aneh; kecil-kecil tapi sebentar-sebentar. Di menit ini kita berantem, adu argumen, saling memenangkan diri sendiri, dan 20 menit kemudian kita dengan ajaibnya bakal ngirim sms selamat tidur yang manis lengkap dengan virtual goodnight kiss-nya kayak biasa.
Saya heran, apa sebetulnya yang ada di pikiran dia setiap kita berantem. Saya selalu pengen tahu tapi ngga pernah berani nanya.

Apa yg paling saya suka dari dia?

Dia, keberadaan ataupun ketiadaannya, selalu bikin saya merasa aman. Secara fisik dan mental. Badannya--jelas--lebih besar dari saya, lebih tegap, lebih berotot, lebih lebar, dan itu--sekali lagi jelas--bikin saya yg kecil ini jadi merasa sangat terlindungi.
Selain itu, dia punya sesuatu yg orang lain ngga punya. Dia selalu bisa bikin keadaan jadi tampak baik2 aja dan ngga ada yg ngga bisa saya lakukan. Semuanya jadi terlihat mungkin, semustahil apapun kelihatannya.

Apa yg sama di antara kami berdua?

Ngga banyak. We're different in many ways and forms. But we're also alike in an unpredictable way.
Kayak kita ternyata suka beragam jenis musik dan ngga bisa stick di satu genre--kecuali ada yg kita berdua cinta bgt kayak soul. Lalu kita suka makan apapun di pinggir jalan. Walaupun saya sendiri ngga nolak kalo diajak makan di resto yg kecean dikit :P
Terus... Kayaknya ngga ada lagi. Bedanya lebih banyak.

Apa yang menyenangkan dari hubungan ini?

Surprisingly, bukan cuma kebersamaannya, tapi juga keterpisahannya. Okelah, let's say we live in the same life. Kita mesti ketemu sekitar 4-6 jam sehari, 4 hari seminggu, biarpun ngga mesti sama2 karena temen2 saya dan temen2 dia bisa dibilang adalah 2 grup yg bertolak belakang; temen2 dia kerjanya duduk2 dgn tenang bareng2 di kosan dan temen2 saya seringnya jalan2 keliling kampus atau malah nge-mal di sela2 kuliah.
Tapi itulah yg saya pelajari. Sejak sama dia, saya punya kemampuan hebat--hebat sekali malah-- untuk mentoleransi kesendirian.
Anehnya, sendirian versi saya tidak lagi berarti 'ngga punya siapa2 yg menemani'. Sekarang sendirian versi saya adalah 'merelakan diri ditelan kebisingan dgn tetap merasa ramai'.
Toh kita ngga harus selalu berdua--walopun ada beberapa saat di mana saya lagi pengen2nya manja2an sm dia. Lebih baik sendirian dan merasa ramai di dalam daripada selalu dikelilingi keramaian tetapi merasa sepi di dalam.
What a good thing to learn :)
Hal lain yg menyenangkan dari hubungan ini adalah betapa saya menikmati detik2 saya tersenyum2 penuh kenistaan ketika saya menemukan bukti kecil bahwa saya adalah pacarnya dan seolah2 seisi dunia tahu itu dari ceritanya. Seperti malam itu, waktu teman2nya bertanya di mana pacarnya. Saya cuma tersenyum2 bodoh membaca smsnya selama beberapa detik.
You know, that kind of smile when a guy stating directly or indirectly that he owns you.
Saya menikmati detik2 itu. Saya menyukai fakta sederhana bahwa saya memiliki dan dimilikinya.

Fakta paling mengejutkan?

I've had it that night. Waktu teman2 menggambarnya menginap di rumahnya. Saya tahu kalo kelakuan teman2nya itu sama seperti kelakuan dia jaman sekolah dulu. Sama tahunya kalo sekarang dia udah bener2 free and healed. With all the booze, girls, bikes, and another wilderness.
Begitu dia ngaku kalo tempo lalu dia pernah balik lagi ke 'sana', saya biasa aja. Tapi hal itu jadi ngga lagi kerasa biasa sewaktu saya mewanti2nya pas temen2nya lagi nginep itu, supaya jangan sampe dia ikut2 'balik lagi ke sana'. Ada dorongan aneh di diri saya kalo ngebayangin dia begitu lagi. Entah itu campuran perasaan khawatir, takut, ngga percaya atau apa, saya ngga ngerti.
I just thought that I would cry if he ever does it again. Itu tuh rasanya kayak ngeliatin orang yang kamu sayang tenggelam di laut dan kamu ngga bisa ngapa-ngapain kecuali berdiri di sana, ngga berbuat apa-apa karena kamu ngga bisa berenang.

Apa yang terjadi pada saat-saat genting?
Saya—kita tepatnya—berada di satu bulan penuh masalah. Penuh sekali dengan kejenuhan, kekesalan, kemarahan, kedinginan, dan prasangka. September 2012 itu, adalah bulan berat untuk saya dan dia. Sejak awal bulan yang kita berdua lakukan adalah berselisih paham, beradu argumen, meredam amarah dan kekesalan. Samapi akhir bulan pun kita masih seperti itu; dia menjadi lebih cepat marah sedangkan saya menjadi lebih sering berprasangka. Tiap hal yang kita lakukan atau tiap hal yang saya katakan seolah menjadi bumerang yang berbalik menyerang saya. Saya jadi lebih waspada pada hal terburuk yang mungkin terjadi. Berulang-ulang saya bilang ke diri sendiri bahwa ini cuma satu dari sekian banyak ujian yang memang sudah waktunya tiba. Saya pada bulan itu dilanda kebingungan yang jujur saja cukup menyesakkan. Tiba-tiba saja muncul pertanyaan-pertanyaan berbahaya di kepala saya; ‘apa aku akan kuat?’, ‘apa dia akan bertahan dengan aku yang begini?’, ‘berapa lama kita mampu bertahan?’,‘apa kita akan sampai tujuan?’, ‘apa yang harus aku lakukan agar kita bertahan lebih lama dan lebih lama lagi?’ dan pertanyaan-pertanyaan lain yang sejenis. Dan ini tidak terjadi pada kali itu saja. Namun juga pada beberapa titik di perjalanan saya dan dia yang telah lalu.
Tapi yang tidak pernah gagal membuat saya yakin adalah sebuah fakta kecil yang pernah dia bilang bahwa dia ngga bertahan karena kasihan, dan bahwa dia tinggal karena memang sayang dan kalopun perasaan itu udah menguap dia bakal bilang dan ngga usah repot-repot bertahan.
See? Dia bertahan.
 Setidaknya untuk sebuah proses yang kita jalani pelan-pelan ini. Saya selalu kembali ke situ setiap kali ketakutan dan keraguan menyergap. Dan yang bisa saya lakukan kemudian hanya menanamkan keyakinan kuat-kuat bahwa jika kita memang dilahirkan untuk saling menemani, maka kita akan baik-baik saja dan jika pun tidak, maka ada rencana lain yang telah Tuhan siapkan untuk kita. Saya mulai berhenti menaruh ekspektasi. Saya cuma perlu yakin. Dan menerima. J 
Apa yang dia ngga tahu?
I’ll tell you some things. Kadang saya masih deg-degan kalo mau ketemu sama dia, mau itu dia yang dateng ke rumah, kita ketemu di kampus, atau sekedar pergi kencan. Deg-degan dan malu itu masih ada, masih sama kayak waktu baru mulai pacaran dulu.  I wonder why.
Hal lain yang dia ngga tahu adalah bahwa tiap BBM atau SMS kecilnya bisa bikin mood saya naik seketika. Saya ngga peduli isinya apa, mau itu cuma nanya lagi apa, udah makan atau belum, atau ucapan paling magic sedunia kayak, ‘selamat pagi’.
Saya juga sebenarnya ngga musingin kalo kita ngga ketemu karena dia sibuk dan seharian kita ngga saling menghubungi. Karena satu telefon 14 menit atau beberapa SMS atau BBM malemnya udah cukup. Yang penting dia inget saya di sela-sela kesibukannya. Dan itu cukup.
Saya selalu kangen ucapa selamat pagi darinya. Itu selalu terasa menyenangkan dan menghangatkan.
Oia, dia juga ngga tau kalo malem bulan September waktu saya nulis bagian pertanyaan ini, saya terus-terusan senyum-senyum ngeliatin foto kita berdua yang kita ambil sorenya di rumah saya sepulang kuliah. Manis juga sebenernya. Biarpun mukanya asem-asem gimana gitu.
Silakan bilang saya dangdut.
Apa yang aneh?
Dari dulu saya pikir seru kali ya ngabisin waktu deket-deket dia, ngerjain satu proyek bareng-bareng, pusing bareng-bareng... Saya selalu nunggu kesempatan itu. tapi ketika kesempatan itu bener-bener dateng, di beberapa titik saya malah capek. Saya malah takut.
Capek karena ego saya dan dia gampang banget berbenturan. Perselisihan yang paling mendasar semacam, selera siapa kayak gimana, siapa sukanya apa, siapa mikirnya apa, dll.
You know, we’re two different people. Di beberapa sisi harus diakui saya dan dia ini ngga bisa sama.
Saya takut masalah- masalah dan ego yang saling bergesekkan ini bakal merusak sedikit demi sedikit alih-alih menguatkan ikatan yang kita bangun dari nol sama-sama.
Mungkin bener, ya absence makes heart grow fonder. Dan bahwa lebih baik menempatkan sesuatu sesuai porsinya. Termasuk juga porsi tatap muka dan komunikasi. Karena perlu diakui kalau jarak dan ketiadaan yang sementara bikin hati dan ikatan lebih kuat, lebih erat, lebih dekat.

Apa harapan yang sebenar-benarnya?
Ngga’ banyak. Ngga’ muluk juga mungkin. Saya cuma pengen jadi orang yang selalu berhasil bikin dia senyum lagi kapanpun dia ada di saat-saat terburuknya. Saya pengen kalo misalnya suatu saat nanti kami ngga’ bisa sama-sama lagi terus kita ketemu di jalan, dia bilang dalam hatinya, ‘gadis ini yang selalu jatuh hati padaku.’ Begitulah bagaimana saya ingin diingat. Saya ngga’ pengen ngerasa paling bener mencintai dia. Cukup bagi saya memberikan perasaan ini kepada pria seperti dia. Dengan cara yang benar. Karena mencintainya adalah keputusan yang benar.

Pacar saya emang ngga kayak cowok2 lainnya. Tapi emangnya kenapa? Dia terasa lebih baik :)